Mengenai Saya

Foto saya
YOGYA -TERNATE, DIY, Indonesia
ORANGNYA SANTAI, TAMPIL APA ADANYA, SENENG YANG SIMPEL2, DAN YANG PRAKTIS AJA, KALO SOAL KEBIJAKAN SAYA ORANGNYA CUKUP CEPAT DAN TEGAS

Senin, 17 November 2008

PERAIRAN DIKAWASAN PESISIR

Secara fungsional perairan di kawasan pesisir dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) zona yaitu perairan estuari, perairan pantai dan perairan samudera.

1. Perairan Estuari
Estuari adalah suatu perairan pesisir yang semi tertutup yang berhubungan bebas dengan laut, sehingga dipengaruhi oleh pasang-surut, dan terjadi percampuran yang masih dapat terukur antara air laut dengan air tawar yang berasal dari drainase daratan. Termasuk dalam estuari tidak hanya badan air saja, melainkan juga basin perairan estuari dan daerah tepian estuari yang secara berkala tertutup oleh air pasang atau oleh peristiwa alam lain seperti badai. Salinitas estuari berfluktuasi dan sangat dipengaruhi oleh musim dan pasang-surut. Tanah di estuari umumnya berlapis-lapis sesuai dengan amplitudo pasang-surut. Di pantai yang rendah, estuari sering mengalami evolusi membentuk delta. Di daerah tropik pembentukan delta dipercepat oleh adanya vegetasi mangrove terutama Rhizophora dan Avicennia. Pada umumnya estuari mempunyai produksi biologik tinggi. Produktivitas primer estuari ditentukan oleh fitoplankton, diatom bentik, rumput laut dan berbagai kelekap. Disamping mempunyai produktivitas primer yang tinggi, estuari berfungsi sebagai tempat penimbunan bahan-bahan organik yang dibawa aliran sungai. Detritus membentuk substrat guna pertumbuhan berbagai bakteri dan alga yang selanjutnya menjadi sumber pakan penting bagi hewan pemakan suspensi dan detritus.
Di daerah estuari terdapat bermacam-macam fauna termasuk belanak (Mugil sp.), tiram (oysters), kepiting (crabs) dan udang (shrimps). Estuari merupakan tempat asuhan (nursery ground) dan mencari makan (feeding ground) bagi anak ikan. Ikan-ikan migrator (diadrom) yang sering terdapat di estuari sangat toleransi terhadap perubahan salinitas dan faktor-faktor lain. Estuari merupakan jalan masuk dan keluar jenis-jenis ikan migrator tersebut, baik ikan anadrom maupun katadrom.
Secara umum fauna yang kemungkinan terdapat di perairan estuari terdiri atas fauna yang termasuk jenis-jenis stenohalin, euryhalin, payau, jenis fauna air tawar tetapi dapat hidup di estuari, bahkan ada kemungkinan terdapat jenis fauna darat tetapi dapat hidup di estuari. Penelitian Suadi dkk. (2001) di Sungai Opak-Oya bagian hilir menunjukkan di perairan sungai tersebut terdapat sedikitnya 25 jenis ikan dan udang yang beberapa jenis di antaranya merupakan jenis-jenis ikan migrator. Beberapa jenis ikan migrator tersebut ada yang termasuk ikan laut seperti ikan kuweh (Caranx ignobilis), belanak (Mugil cephalus) dan keting (Mystus nemurus) serta ikan air tawar seperti sidat (Moriqua raitaborua).
Bentuk dan ukuran basin perairan sangat beragam tetapi pada umumnya dapat dibedakan menjadi 4 (empat):

a. Sungai pasang-surut
Sungai pasang-surut (tidal river) adalah batang sungai terhilir yang bermuara di laut, mulai dari muara sampai suatu lokasi di hulu yang fenomena laut seperti pasang-surut dan percampuran dengan air laut masih terukur/terlihat. Disarankan lokasi di sungai dengan salinitas sebesar 0,5o/oo ditetapkan sebagai batas hulu suatu sungai pasang-surut.

b. Teluk
Teluk adalah suatu perairan pesisir semi tertutup yang lebih luas dan pada umumnya hubungannya dengan laut sangat terbuka, sehingga pengaruh pasang-surut juga cukup besar dan limpasan air teluk melalui arus pasang dan arus surut juga berlangsung baik. Arus di dalam teluk seringkali juga mendapat tenaga penggerak tambahan yang bersumber dari air tawar yang masuk ke dalam teluk.

c. Embayment
Embayment dapat dibedakan dengan teluk dengan melihat beberapa ciri sebagai berikut:
1) hubungan dengan laut sempit,
2) kurang luas dan dangkal bila dibandingkan dengan teluk,
3) amplitudo pasang-surut relatif kecil,
4) aliran masuk air tawar besar,
5) sirkulasi air terbatas hingga limpasan biasanya juga terbatas, kecuali jika aliran masuk air tawar sangat besar.

d. Laguna
Laguna dapat dibedakan dengan teluk dan embayment dengan melihat ciri-cirinya sebagai berikut:
1) hubungan dengan laut sempit,
2) aliran masuk air tawar kecil,
3) salinitas relatif tinggi dan konstan,
4) sirkulasi air lamban.


2. Perairan Pantai
Perairan pantai meliputi perairan laut mulai dari batas estuari ke arah laut sampai batas paparan benua atau batasan teritorial. Pada kawasan pesisir yang tidak meiliki estuari, batas perairan pantai dengan daratan adalah garis pantai. Pada perbatasan antara perairan pantai dengan daratan pesisir terdapat zona tepian. Zona tersebut juga terdapat pada perbatasan estuari dengan daratan pesisir. Daerah tepian masih tergolong perairan pesisir walaupun mungkin hanya tergenang air pada waktu air pasang, atau hanya saat terjadi banjir oleh badai. Daerah tepian ini pada umumnya ditutupi oleh beraneka ragam vegetasi dan dihuni beberapa jenis biota. Pada daerah tepian terdapat beberapa tipe ekosistem:

a. Ekosistem litoral
1) Pantai berpasir dangkal
Ekosistem tersebut umumnya terdapat di perairan pantai terbuka yang jauh dari pengaruh sungai besar. Bentuknya dapat berupa hamparan pasir luas yang membentang dari garis pantai ke arah laut, atau dapat berupa daerah sempit antara dua dinding/tebing batu terjal. Biota yang sering dijumpai antara lain:
a) Rumput laut atau algae: Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, Halimeda dan Padina.
b) Kerang dan siput laut: Anadara, Cardium, Mesodesma, Pinna, Cerithium dan Strombus.
c) Kepiting dan teripang (echinodermata).

2) Pantai berbatu
Pantai berbatu terbentuk dari batu-batu granit besar dan kecil yang berserakan di daerah pantai tempat ombak memecah, dan umumnya terdapat bersama-sama atau berseling dengan pantai berdinding batu. Biota yang sering dijumpai antara lain:
a) Algae : Sargasum, Eucheuma dan Gelidium.
b) Gastropoda : Cellana, Petella, Siphonaria dan Nerita.

3) Pantai berkarang
Pantai berkarang terbentuk sebagai hasil kegiatan organisme laut yaitu dari jenis-jenis hewan yang termasuk Phylum Coelenterata seperti Acropora, Fungia dan Porites, serta beberapa jenis algae kapur seperti Halimeda dan Lithothamnion.


4) Pantai berlumpur
Pantai lumpur terbentuk di sekitar muara sungai, umumnya merupakan bagian dari estuari atau delta, seringkali terbentang luas ke arah laut. Tebal endapan lumpur dapat mencapai satu meter atau lebih. Di bagian pinggir yang berlumpur cukup padat dan stabil, hidup jenis-jenis Mollusca, Crustacea dan jenis rumput laut Enhalus. Di bagian pantai berlumpur dekat garis pantai biasanya ditumbuhi oleh jenis Avicennia.

b. Hutan payau
Hutan payau atau hutan mangrove tersebar luas di pantai kepulauan Indonesia pada pantai-pantai yang terlindung, muara sungai dan laguna. Struktur hutan payau sangat sederhana yang umumnya hanya terdiri atas selapis tajuk tumbuhan dengan jumlah jenis yang kecil. Jenis-jenis yang dominan terdiri atas Genera Rhizophora, Bruguiera dan Avicennia.
Dominansi flora pada hutan mangrove ditentukan oleh beberapa faktor penting seperti jenis tanah dan genangan pasang surut. Di daerah pantai terbuka dengan tanah berpasir agak keras mangrove didominasi oleh api-api (Avicennia), sedangkan jika tanahnya berlumpur lembut, mangrove didominasi oleh pedada (Sonneratia). Di pantai yang terlindung mangrove biasanya didominasi oleh bakau (Rhizophora), di pantai dengan tanah lempung flora yang dominan yaitu tanjang (Bruguiera), sedangkan di tepi sungai agak ke hulu mangrove didominasi oleh nipah (Nypa).
Mangrove merupakan ekosistem utama pendukung kehidupan penting di kawasan pesisir dan lautan. Fungsi dan manfaat mangrove antara lain:
(1) sebagai peredam gelombang dan angin badai, pelindung dari abrasi, penahan lumpur, dan perangkap sedimen;
(2) penghasil sejumlah besar detritus dari daun dan dahan pohon mangrove;
(3) bagi perikanan: daerah mencari makanan (feeding ground), tempat berlindung (shelter), daerah pemijahan (spawning ground), daerah asuhan (nursery ground), habitat tetap, daerah penangkapan (fishing ground) dan tempat budidaya;
(4) penghasil kayu untuk bahan konstruksi, kayu bakar, bahan baku arang dan bahan baku kertas;
(5) pemasok larva ikan, udang dan biota laut lainnya;
(6) sebagai tempat wisata.



c. Hutan terna rawa payau
Tipe ekosistem tersebut sering terdapat di belakang hutan payau atau di pantai yang landai dengan drainase yang kurang baik, dengan lapisan tanah liat yang pejal dan tidak tembus air. Pada dasarnya ekosistem tersebut merupakan ekosistem hutan payau tetapi jarang dibanjiri atau tergenang air laut. Vegetasi terna yang dapat dijumpai antara lain Sesuvium portulacastrum, Suaeda maritima dan Trianthema triquerta.
d. Hutan rawa air tawar
Hutan ini merupakan hutan hujan tropik yang tergenang secara terus menerus atau musiman, dan terdapat pada bagian hilir sungai besar dan anak-anak sungainya, atau di delta di belakang hutan payau atau di sepanjang sungai di belakang tanggul-tanggul alami. Tanah di ekosistem ini berupa endapan aluvial dari sungai, terutama dengan tekstur liat, kadang-kadang debu dan jarang sekali berupa pasir. Jenis-jenis vegetasi yang khas pada ekosistem ini antara lain dari Genera Gluta, Metroxylon, Barringtonia, Shorea, Pandanus dan Campnosperma.

e. Hutan rawa gambut
Hutan rawa gambut terdapat di daerah yang sama dengan hutan rawa air tawar, tetapi dalam lingkungan air yang oligotropik yang memungkinkan terbentuknya gambut. Vege-tasi yang umum dijumpai pada ekosistem hutan rawa gambut yaitu anggota Genera Alstonia, Amoora, Dryobalanops, Eugenia dan lain-lain. Di samping itu, seringkali juga terlihat kecenderungan terbentuknya tegakan murni Agathis dan Campnosperma macrophylla.

3. Perairan Samudera
Termasuk dalam perairan samudera adalah semua perairan ke arah laut terbuka dari batas paparan benua atau batas teritorial. Di kebanyakan perairan samudera, salinitas umumnya berkisar antara 34-35o/oo.


DAFTAR PUSTAKA

Brotowidjoyo, M.D., Tribawono, D. dan E. Mulbyantoro, 1995. Pengantar Lingkungan Perairan dan Budidaya Air. Liberty, Yogyakarta.

Nybakken, J.W., 1992. Biologi Laut. Gramedia, Jakarta.

Odum, E.P., 1996. Dasar-Dasar Ekologi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Suadi, Soeparno, Probosunu, N. dan B. Kamulyan, 2001. Studi Biofisik Perairan Sungai Opak-Oya Hilir. Seminar Nasional Eko-hidraulik. Yogyakarta 28-29 Maret 2001.

Tidak ada komentar: